Selasa, 02 April 2013

LOKAKARYA PENDIDIKAN NILAI 2013


Damai Kristus,
Sebagai tanggapan atas keprihatinan gereja terhadap krisis ekologi global dan juga memudarnya nilai-nilai kehidupan, PUSPITA (Pusat Spiritualitas Girisonta) kembali menginformasikan program-program khusus yang diselenggarakan dalam tahun 2013, dengan narasumber yang berkompeten, yaitu:

● LOKAKARYA PENDIDIKAN NILAI 1 (15-19 Juli 2013/4 hari)
Merupakan program yang ditujukan untuk para pendidik yang ingin mulai belajar  pendidikan nilai dengan mengalami sendiri proses pendidikan nilai, pengenalan awal berbagai model pendidikan nilai, dan merumuskan langkah-langkah awal untuk memulai proses pendidikan nilai.
● Narasumber : Pastor Ferry Sutrisna Wijaya, Pr.
● Kontribusi  : Rp800.000/orang.

● LOKAKARYA PENDIDIKAN NILAI 2 (22-28 Juli 2013/6 hari)
Program ini diperuntukkan bagi para pendidik yang sudah mempunyai pengalaman dalam proses pendidikan nilai, dengan tujuan untuk memperdalam pengenalan berbagai model pendidikan nilai, mempelajari berbagai strategi pengembangan pendidikan nilai, dan menyusun langkah-langkah mengembangkan program pendidikan nilai.
● Narasumber : Pastor Ferry Sutrisna Wijaya, Pr.
● Kontribusi   : Rp1.200.000/orang.

Catatan:
Para peminat bisa mengikuti hanya salah satu paket, tetapi sangat dianjurkan mengikuti keduanya.

● RETRET PEZIARAHAN EKOLOGIS  (7-14 September 2013/7 hari)
Retret ini dilatarbelakangi krisis lingkungan hidup, dan diolah untuk menjawab panggilan Tuhan untuk pertobatan ekologis. Retret ini diharapkan membantu memberi dasar spiritual dan arah pastoral bagi mereka yang bergerak dalam pelayanan atau berminat dalam eko-pastoral atau pastoral merawat bumi.
● Narasumber : Pastor Ferry Sutrisna Wijaya, Pr., dibantu Sr. Elly Verrijt, MMS
● Akomodasi : Rp950.000/orang.

PROFIL NARASUMBER
Ferry Sutrisna Wijaya, Pr. lahir  pada 29 Agustus 1961 di Bandung dan ditahbiskan menjadi imam diosesan Keuskupan Bandung pada 2 Februari 1990. Pastor Ferry adalah aktivis di bidang pendidikan dan ekologi. Minat utamanya adalah bidang pendidikan nilai dan pendidikan lingkungan hidup.  Sejak 2002 ia ikut mengembangkan Spirit Camp yang menyediakan berbagai program bermain di alam terbuka dan pendidikan nilai untuk anak-anak. Ia menyelesaikan pendidikan S3 dalam bidang pendidikan umum dengan konsentrasi pendidikan nilai dengan disertasi "Pengembangan Model Eco Learning Camp (Rumah Belajar Lingkungan Hidup) sebagai Model Pendidikan Nilai". Saat ini ia menjadi Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Bandung, aktif menjadi narasumber dan juga penulis di pelbagai media.

Sr. Elly Verrijt, MMS (Medical Mission Sisters atau Biarawati Karya Kesehatan/BKK) lahir di Belanda pada tahun 1944. Suster Elly Verrijt yang pernah bertugas di Indonesia pada 1969-1980 adalah pelopor Spiritualitas Ekologis, pendiri De Gaarde, suatu Pusat Spiritualitas Ekologis di Udenhout, Belanda (1999), pembicara dalam pelbagai lokakarya dan seminar ekologi internasional, serta pembimbing retret. Sr. Elly yakin, bahwa masyarakat Indonesia yang begitu lembut hati dan penuh perhatian akan keindahan alam bumi pertiwi,  bisa menemukan cara-cara untuk menyelamatkan bumi dengan melestarikan lingkungan hidup demi generasi mendatang.

Demikianlah informasi ini kami sampaikan sebagai undangan bagi yang berminat. Pendaftaran kami layani baik melalui surat, fax, e-mail maupun pesan singkat (SMS). Atas segala perhatiannya, kami sampaikan banyak terimakasih.

Salam dan doa,


               


H. Budiarto Gomulia, S.J.      

DVD SOEGIJA: dapatkan di Perpustakaan Puspita


SOEGIJAPRANATA? 


ia bukan nama uskup belaka, bukan nama yayasan, bukan nama universitas, tetapi juga pahlawan nasional, sang silent diplomator bagi tegaknya kedaulatan Republik Indonesia.

ia berjuang dengan cara yang khas. ia Jesuit sejati yang mengkontemplasikan wajah Kristus yang hadir dalam umat pribumi dan untuk itu berusaha gigih membela kemanusiaan bangsanya. 

dan lagi, pada masanya ia adalah salah satu pemberi retret di Rumah Retret Girisonta...

Soegija merupakan produksi dari Studio Audio Visual Puskat, sebuah karya Jesuit dalam bidang audio visual  di Yogyakarta.


tertarik dengan figurnya? dapatkan filmnya seharga RP 60.000,00

SINOPSIS:
Film ini ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaaan bangsa Indonesia (1940-1949). Adalah Soegija (diperankan Nirwan Dewanto) yang diangkat menjadi uskup pribumi dalam Gereja Katolik Indonesia. Baginya kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya.

Dan perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem ( Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia).

Tampaknya keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Budhist, ia tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert ( Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu Ibunya.

Di tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang. Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.




Sutradara Garin Nugroho
Produser Djaduk Ferianto, Murti Hadi Wijayanto SJ, Tri Giovanni
Penulis Armantono, Garin Nugroho
Pemeran Nirwan Dewanto, Annisa Hertami, Wouter Zweers, Wouter Braaf, Nobuyuki Suzuki, Olga Lydia, Margono, Butet Kartaredjasa, Hengky Solaiman, Andrea Reva, Rukman Rosadi, Eko Balung, Andriano Fidelis
Musik Djaduk Ferianto
Sinematografi Garin Nugroho
Penyunting Garin Nugroho
Studio Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta

http://www.soegijathemovie.com/synopsis.html

Jumat, 15 Maret 2013

PERUBAHAN BIAYA AKOMODASI PUSPITA


Pertama-tama kami mengucapkan banyak terimakasih atas kepercayaan dan kerja sama yang telah terjalin selama ini. Dengan surat ini kami ingin menyampaikan kabar yang kurang menggembirakan. Karena kenaikan aneka biaya, dengan terpaksa kami menaikkan biaya akomodasi dan lokakarya/kursus yang berlaku untuk program-program yang terjadwal mulai 1 April 2013. Biaya akomodasi (living cost) retret yang semula Rp100.000/orang/hari kami naikkan menjadi Rp120.000/orang/hari, sedangkan untuk biaya lokakarya/kursus
menjadi Rp150.000/orang/hari (kecuali program-progam tertentu). Tentu saja kenaikan ini dengan catatan bahwa kami tetap memberi keringanan bagi peserta yang secara finansial merasa terlalu berat.


AGENDA dan PERUBAHAN BIAYA 2013

Demikianlah perubahan biaya ini kami sampaikan. Sekali lagi kami sampaikan terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya.
        Hormat saya,


H. Budiarto Gomulia, S.J.
          Direktur

Kamis, 17 Januari 2013

BUKU BARU 2013










Sahabat Puspita,

untuk melengkapi koleksi Perpustakaan Spiritualitas Girisonta, maka pada tahun ini kami menghadirkan ke hadapan Anda buku-buku yang menarik:


The Cambridge Companion to the Jesuits (Cambridge Companions to Religion)
Ignatius of Loyola (1491-1556) obtained papal approval in 1540 for a new international religious order called the Society of Jesus. Until the mid-1700s the 'Jesuits' were active in many parts of Europe and far beyond. Gaining both friends and enemies in response to their work as teachers, scholars, writers, preachers, missionaries and spiritual directors, the Jesuits were formally suppressed by Pope Clement XIV in 1773 and restored by Pope Pius VII in 1814. The Society of Jesus then grew until the 1960s; it has more recently experienced declining membership in Europe and North America, but expansion in other parts of the world. This Companion examines the religious and cultural significance of the Jesuits. The first four sections treat the period prior to the Suppression, while section five examines the Suppression and some of the challenges and opportunities of the restored Society of Jesus up to the present.
Spiritual Direction: Beyond the Beginnings
Explores issues that arise in the advanced stages of spiritual direction from both a practical and theoretical perspective.

Dyana berarti “jalan setapak masuk ke dalam hati”, dimengerti sebagai “keheningan” dan “meditasi”. “Hati” yang menjadi tujuan, dipahami sebagai inti pribadi manusia, tempat berseminya aneka pencerahan yang menyangkut kehidupan, keheningan, dan kasih
Menemukan Allah dalam Segala Sesuatu
Buku terjemahan dari William Barry SJ:  Buku ini membantu kita menemukan metode sederhana untuk bisa menemukan kehadiran Allah dalam hidup kita dan dalam segala sesuatu. dengan menggunakan gaya Ignasian, Barry menyuguhkan refleksi dan metode doa yang mendalam.
A Friendship Like No Other

A Friendship Like No Other

Experiencing God's Amazing Embrace
A Friendship Like No Other offers three well-supported and practical sections: prayerful exercises to help lead us to the conviction that God wants our friendship; a close look at objections to this idea; and reflections on experiencing the presence of God and discerning those experiences. Brief, personal meditations are woven throughout.
The cornerstones of Ignatius of Loyola's spiritual practice--meditation and contemplation--are clearly explained in this simple guide to the Ignatian method, which is highlighted by examples from practitioners and quotations from Catholic spiritual teachers.
Front cover for An Ignatian Introduction to Prayer
Bestselling author, Timothy Gallagher offers an accessible, personal practice of prayer. Each of the book's 40 entries encourage us to live into the moments described in the Gospel and to be uplifted by a sense of identification with characters from scripture.
Fr. Gallagher helps us understand meditation and contemplation—the foundation of all Ignatian prayer—so that we can harness the power of of these resources in our own lives. A great asset for strengthening and renewing the practice of prayer.
THE Treatise on the Particular Examen of Conscience, by Father Luis de la Palma, of the Society of Jesus, fully explains the nature and the use of this Spiritual Exercise, as it was taught by St. Ignatius in his book of the Exercises. Since the time of St. Ignatius, the Particular Examen has been adopted to a considerable extent, both by Religious and by persons in the world, aspiring to perfection, and, very generally, by the active Orders which have sprung up since the time of the first French Revolution. 

It was to be expected that the nature and true object of the Particular Examen would be often misunderstood, and sometimes, the name was given to an Exercise, as unlike the Particular Examen of St. Ignatius as anything that could be imagined. Instances are not wanting, in which Religious, making the General Examination of Conscience at midday and in the evening, were instructed to write down all the faults of the morning and the afternoon, and taught to consider such noting down as the Particular Examen. 
Jesus: A Portrait
Much of what one sees or reads about Jesus is deliberately sensationalist or evasive. Producers and writers raise issues of merely historical interest, highlight trivial matters, or allege that cover-ups" have hidden the "real truth" for many centuries. They will do anything but face the challenge in the ultimate religious drama created by the life, death, and resurrection of Jesus of Nazareth." - Gerald O'Collins SJ. There are many books about Jesus, but few attempt to tell us what he was actually like. This new book by the distinguished Catholic biblical scholar and systematic theologian Gerald O’Collins concentrates on bringing the personality of Jesus alive. It combines devotion and experience with a lifetime of scholarly investigation
Taming the Tiger Within is a handbook of meditations, analogies, and reflections that offer pragmatic techniques for diffusing anger, converting fear, and cultivating love in every arena of life-a wise and exquisite guide for bringing harmony and healing to one's life and relationships.
Peace Is Every Breath: A Practice for Our Busy Lives
“Among Buddhist leaders influential in the West, Thich Nhat Hanh ranks second only to the Dalai Lama.” --New York Times Thich Nhat Hanh has been writing and talking about mindfulness for nearly fifty years. In the bestselling classic, Peace Is Every Step, the Zen Master introduced us to the peace that is available to us in each moment. This past year Thay, as his students call him, sat down to pen this book because he believes that the busyness of our lives has gotten out of control and led to unnecessary unhappiness. In Peace Is Every Breath, he does not argue that we put our lives on hold or stop living our fast-paced lives. Far from from it in fact, in this jewel of a book Thay illuminates how mindfulness can help us thrive and transcend the mad rush of our days and discover that within the here and now, the rituals of our days, we have the ability to experience true happiness. Thay guides us through the day offering personal anecdotes, meditations and advice for mindfully connecting with our present experience. We do not need to escape reality to harness the joy and peace we can experience with every breath we take. In Peace Is Every Step Thich Nhat Hanh introduced the world to idea that through mindfulness we can find peace. With Peace Is Every Breath, he takes this concept further and makes it even more applicable to our busy, modern lives. Thich Nhat Hanh believes that now more than ever we need to use the power of mindfulness to heal ourselves from the many stresses that surround us. Peace Is Every Breath is a timely book filled with timeless wisdom and practical advice that is destined to become a classic.
Nine Secrets of Successful Meditation
Dr. Vinod shows his readers how to enjoy meditation--and how to integrate the practice into everyday living and thus trigger spiritual growth and harmony
Just Call Me López
A sixteenth-century saint. A twenty-first-century woman.
Two very different paths are about to cross . . .

What could we have in common with a man from the sixteenth century? How about a man from the sixteenth century who becomes a saint? St. Ignatius of Loyola wasn’t always heroic and holy; he was flawed and fallible, just like us. In Just Call Me López, a twenty-first-century woman, Rachel, meets Íñigo López—the man we know today as St. Ignatius—and both are transformed by their unlikely friendship and series of thought-provoking conversations.
Their worlds literally collide when Rachel is struck by a hit-and-run driver, and López is there to help her. They realize that this chance accident is actually an act of God that allows Rachel and López, through the medium of their friendship, to come to terms with their personal struggles.
Just Call Me López helps us realize that our very human faults and imperfect behavior do not prevent us from receiving God’s grace; rather, knowing our weaknesses and giving ourselves over to the Holy Spirit can reveal the God within us and the path before us.







Kamis, 01 November 2012

bagaimana retret terbimbing itu?



BEBERAPA CATATAN TENTANG
RETRET 8 HARI DENGAN BIMBINGAN PRIBADI

Mungkin di antara Anda ada yang baru pertama kali mengikuti retret 8 hari dengan bimbingan pribadi Maka baiklah ada beberapa penjelasan secukupnya bagi Anda semua.
1.     Retret ini hendaknya pertama-tama merupakan suatu pengalaman doa yang intensif, suatu pertemuan dengan Tuhan.Juga merupakan saat rileks, saat berlibur bersama Tuhan.
2.     Kecuali perayaan ekaristi (pkl 18.15) dan makan bersama, tidak ada acara bersama selama retret ini.
3.     Setiap peserta dibimbing secara pribadi oleh seorang pendamping retret. Sekali sehari Anda bertemu dengan Pendamping retret untuk "wawancara" kurang lebih 45 menit. Pada akhir wawancara Anda akan menerima bahan meditasi/kontemplasi untuk hari berikutnya.
4.     Anda membuat acara harian sendiri, dengan menentukan waktu untuk meditasi/kontemplasi, refleksi dan istirahat/relaks.

BEBERAPA SYARAT AGAR ANDA DAPAT MENGAMBIL MANFAAT RETRET INI
>      Istirahat cukup sebelum memulai retret ini. Kondisi badan yang relaks akan sangat membantu dalam proses dinamika retret ini. Sangat membantu jika Anda ‘slow down’.
>      Jika Anda merasa bingung, atau kacau karena problem atau kesulitan emosional yang memustahilkan suasana doa dan konsentrasi, maka sangat dianjurkan agar semua ini dibicarakan dan "dibereskan" (sejauh mungkin sebelumnya).
>      Mulailah retret ini dengan suatu keinginan dan hasrat untuk berdoa dengan sungguh-sungguh dan intensif. Suatu keinginan "to be alone with God", kesediaan untuk mendengarkan apa yang Tuhan ingin katakan kepada Anda dan tentang Anda, sekarang di sini.
>      Kesediaan untuk membuka diri terhadap Pembimbing, untuk mau dikenal oleh Pembimbing. Peran pembimbing seperti seorang ‘mak comblang’ yang membantu Anda untuk makin akrab dengan Tuhan.

Pendek kata:

Mulailah retret ini dengan keinginan jujur untuk membuka diri akan Sabda Tuhan dan inisiatifNya. Kesanggupan untuk menjawab Tuhan dengan hati bebas. Jangan mau menentukan sebelumnya apakah yang dikehendaki Anda sebagai buah konkret dari retret ini. Biarlah Tuhan sendiri yang menjelaskan kepada Anda dalam retret ini. Satu-satunya pengharapan dan kerinduan hati Anda adalah: "menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, agar dalam segala-galanya la akan membalas kecintaan Anda kepada Tuhan.”

TENTANG RETRET TERBIMBING 8 HARI
•       Semoga retret ini dipandang dan dialami bagi Anda sebagai suatu waktu istirahat dalam perjalanan Anda menuju Bapa. Kadang-kadang manusia membutuhkan waktu tenang untuk merefleksikan serta menyelami misteri kehidupannya. Sebagai seorang kristen Anda amat perlu, sekali-sekali meninjau kembali serta memperdalam cita-cita hidupnya dan relasi Anda dengan Kristus.
•       Retret ini pertama-tama merupakan suatu masa doa yang tenang yang cukup lama dan cukup intensif. Itu tidak berarti bahwa selama proses retret ini akan selalu lancar dan penuh semangat. Konsolasi dan desolasi akan datang silih berganti. Mungkin saat tertentu rasanya sia-sia macet dan tak berguna. Tidak jarang justru saat-saat seperti itu merupakan suatu awal proses pertumbuhan yang tak terduga.
Justru Anda dibimbing secara pribadi, maka retret ini dapat membawa Anda ke arah pertemuan yang lebih personal dengan Tuhan. Dengan berusaha membuka diri akan Tuhan dan sabda-Nya, dan sekaligus membuka diri akan seorang pembimbing, maka Anda boleh berharap akan semakin mengenal Tuhan bagi Anda, dan dalam cahaya inilah Anda akan semakin mengenali diri Anda sendiri. Serta "menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tkun. Kita melakukannya dengan mata tertuju kepada Yesus yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman, dan yang membawa iman kita kepada kesempurnaan" (Ibr. 12: 1 - 2)

Struktur "latihan rohani" bertujuan membawa kita ke arah kebebasan rohani sejati. Tujuan itu dicapai dengan mengatur hidup kita begitu rupa sehingga tak ada keputusan atau pilihan diambil dibawah pengaruh rasa lekat atau cinta yang tak teratur.
Apa yang telah dimulai dalam diri Anda sampai sekarang ini tentu tidak selesai pada hari terakhir retret ini.
Retret merupakan "benih", jangan Anda beranggapan bahwa segalanya akan beres sesudah retret ini. Rahmat yang dilimpahkan Tuhan kepada Anda dalam retret ini mungkin merupakan awal dalam suatu proses yang tidak pernah akan selesai.

ACARA HARIAN

Anda yang menyusun acara harian selama retret ini. Agar meditasi/kontemplasi refleksi-refleksi, istirahat (relaks) betul-betul cocok dengan kebutuhan dan irama hidup Anda.
Maksud acara harian, adalah untuk menciptakan suasana tenang, suasana doa, dan suasana relaks yang semuanya diperlukan agar Anda dapat "sendirian dengan Tuhan" selama hari-hari retret ini, dan supaya Anda semakin peka akan Tuhan dan bisikan/karya Roh Kudus.

Dalam menyusun acara harian baiklah diperhatikan:
❖     Setiap hari ada 4 kali meditadi/komtemplasi. Dan setiap meditasi/kontemplasi selama satu jam penuh. Dianjurkan agar pembagian waktu meditasi/kontemplasi cukup merata; beri selang waktu yang cukup antar doa satu dan berikutnya. Peganglah teguh waktu-waktu yang telah Anda tentukan itu.
❖     Sesudah setiap meditasi/kontemplasi ada saat refleksi, dan membuat catatan yang perlu.
❖     Dianjurkan pada awal retret acara harian anda dibicarakan sebentar dengan pembimbing Anda. Jika dalam retret merasa perlu mengubah acara harian, baiklah kalau diberitahukan kepada pembimbing Anda.
Untuk menciptakan suasana tenang dan refleksif, maka keheningan mutlak perlu, jangan tawar-menawar dalam hal keheningan. Anda akan sangat membantu teman-teman lainnya, bila Anda sendiri melaksanakan silentium dengan saksama.
Jangan membicarakan dengan teman-teman bahan atau bimbingan yang diberikan oleh Pembimbing Anda. Kalau Anda buat akan hal ini, maka seluruh proses retret  akan mudah merosot menjadi perkara manusiawi belaka.
Istirahat dan waktu-waktu relaks merupakan salah satu unsur hakiki dari seluruh proses retret ini: "selingan" sehat dan harmonis antara meditasi dan kontemplasi- refleksi dan relaks itu cukup penting.

REKREASI/RELAKSASI YANG DIANJURKAN

Berjalan-jalan cukup lama setiap hari, di dalam atau di luar kebun, tanpa 'memikirkan apa-apa', hanya menikmati keindahan alam, dll. Biarkanlah semuanya yang Anda lihat atau jumpai 'berbicara' tentang Tuhan (misalnya: bunga, burung, gunung, langit dll).
Hobby, pekerjaan tangan, mengarang, melukis, membuat puisi, membuat lagu dll.
Olahraga: jogging, jalan kaki, senam.



REKREASI YANG KURANG COCOK
1.     Membaca buku-buku, roman, majalah, surat kabar dll.
2.      Bahan bacaan rohani yang sekiranya Anda perlukan, mintalah kepada Pembimbing Anda.
3.     Surat menyurat yang tidak perlu, sms, internet, telpon/HP.
4.     Mempelajari bahan-bahan kursus, dll.

BEBERAPA PETUNJUK PRAKTIS MENGENAI MEDITASI/ KONTEMPLASI
Dalam retret ini Anda diharapkan bermeditasi/berkontemplasi empat kali sehari, dan setiap meditasi/kontemplasi selama satu jam penuh.(atau meditasi ke 5 - pengendapan)
Jika Anda merasa digodai untuk memperpendek saja waktu doa satu jam utuh, hendaklah Anda memperpanjang waktu doa dengan menambah beberapa menit.
Bila waktu-waktu doa, renungan dialami sebagai hiburan dan kegembiraan, dapat juga timbul godaan untuk memperpanjang waktu doa, dengan akibat bahwa pengikut retret lebih mencari konsolasi-konsolasi dari Tuhan daripada mencari Tuhan sendiri.
Kalau demikian kepatuhan pada satu jam untuk dapat merupakan jaminan, agar Anda jangan secara halus mencari diri sendiri dalam doa.
Bahan meditasi/kontemplasi akan diberikan oleh Pembimbing. Biasanya akan diambil dari Kitab Suci, sesuai dengan kebutuhan Anda sendiri. Jangan menentukan bahan doa sendiri!

PERSIAPAN MENTAL
1.     Tentukan sebelumnya tempat Anda akan bermeditasi/ berkontemplasi. Selama jam meditasi/kontemplasi jangan pindah-pindah tempat.
2.     Pada setiap permulaan renungan, anda membuat diri sadar akan apa yang akan Anda lakukan, sadar dihadirat Allah.
3.     Lalu ambil posisi badan (duduk dikursi, dingklik, yang kiranya paling cocok agar Anda dapat tenang, relaks tetapi tetap siaga. Bermeditasi/berkontemplasi sambil berjalan-jalan biasanya kurang cocok. Selama jam meditasi/ kontemplasi jangan ganti-ganti posisi duduk. Tetapi kalau merasa tertolong, posisi badan dapat diseleraskan dengan perasaan-perasaan yang timbul, selama waktu doa.
4.     Lalu berusaha menjadi tenang; menenangkan seluruh badan. Menjadi sadar akan pernafasan, akan perasaan dan reaksi badan. Amatilah/dengarkanlah salah satu 'bunyi/ suara' tertentu. Misalnya: kicau burung; bunyi-bunyi disekitar Anda, dll. Menatap salah satu obyek: misalnya: Gambar, bunga, lilin, gambar, salib dll. selama beberapa waktu.
5.     Menjadi sadar akan kehadiran Tuhan. Mintalah kepada Bapa agar Dia menyingkirkan dalam diri Anda segala apa saja yang dapat merintangi kontak atau persatuan dengan Tuhan. Mohonlah agar Allah menanamkan pemikiranNya dan rencanaNya dalam hati Anda. Jadilah sadar akan kehadiran dan karya Roh Kudus dalam diri Anda, mohonlah bimbingan dan bantuanNya. Mungkin teks: "Kehadiran Tuhan" (lih. Madah Bakti) atau salah satu mazmur dapat dipergunakan untuk lama kelamaan masuk ke dalam suasana tenang, damai, penuh konsentrasi.
6.     Mohon rahmat khusus: mohonlah rahmat khusus dari Tuhan dalam meditasi/kontemplasi ini. Misalnya: agar semakin mengenal Dia dan diri sendiri; Rahmat untuk semakin melihatdan menerima diri sendiri seperti apa adanya; Iman yang lebih besar, ketabahan hati dalam situasi yang sulit dll.
7.     Bacalah teks KS dengan perlahan-lahan: Berhentilah bila suatu teks/perkataan mengena di hati, tunggulah dengan sabar akan Tuhan, resapilah, nikmatilah perkataan ini......................................... Ulangilah... ajukan pertanyaan.... Apa yang ingin Kau katakan Tuhan? Ungkapkanlah reaksimu .... Tunggulah .... Jangan terlalu cepat mau mengetrapkan perkataan itu dalam hidup Anda .... Dengarkanlah dahulu! Jika merasa berguna, berilah garis/tandailah dibawah perkataan yang mengena itu. Meditasi/kontemplasi, bukan wawancara dari "otak ke otak", tetapi dari hati ke hati.

8.     Jangan tergesa-gesa: Jangan mengira teksnya harus direnungkan sampai "selesai" sangat dianjurkan agar dalam meditasi/ kontemplasi yang menyusul mengulangi sebentar teks-teks yang pernah menyentuh hati Anda, terutama bila teks tersebut pernah memberi rasa damai, atau pernah membingungkan, atau "menyakitkan" hati Anda.
9.     Jangan putus asa atau berkecil hati, bila teks seakan tidak berbicara sedikitpun. Kadang Tuhan membiarkan Anda mengalami kegersangan untuk mempertebal iman Anda, atau agar Anda semakin sadar bahwa misalnya konsolasi atau desolasi tidak melulu kuasa Anda sendiri. Dapat terjadi bahwa teks itu 'diam' saja, karena Anda tidak mau mendengarkan, sebab di dalamnya mungkin terungkap sesuatu tuntutan yang tidak Anda sukai, atau yang Anda takuti ... Biasanya Tuhan itu amat dekat jika terasa 'absen'. Nantikanlah Dia dengan sabar. Tuhan akan bersabda pada waktunya dan dengan caranya yang khas. Satu hal'lagi: janganlah Anda seakan-akan 'terbentur' pada kata-kata atau kalimat yang tidak jelas dalam teks. Jangan terlalu ambil pusing, bacalah terus saja.
10.  Doa penutup: Menjelang akhir meditasi/kontemplasi Anda" dapat bertanya: "Apa yang telah dikatakan Tuhan tentang diri-Nya sendiri dan tentang Anda, apa kehendakNya, dan jawaban apa kiranya diharapkan dari Anda. Itu dapat diungkapkan dalam bentuk doa (doa wawancara), sebagai penutup meditasi/kontemplasi
Sesudah meditasi/kontemplasi, pakailah waktu untuk refleksi.
Sesudah refleksi, Anda membuat catatan-catatan yang perlu.

BIMBINGAN SELAMA RETRET
Sekali sehari, selama kurang lebih 45 menit Anda akan bertemu dengan Pembimbing Anda. Ada kebiasaan dalam pertemuan ini dibuka dengan suatu doa singkat spontan, entah dari Anda sendiri atau dari Pembimbing. Doa ini menentukan suasana dalam mana wawancara akan berlangsung.
Yang terutama berbicara dalam wawancara adalah Anda sendiri. Wawancara bukan tanya jawab saja. Makin relaks dan makin biasa makin baik. Banyak orang merasa tertolong bila membawa catatan-catatan yang telah dibuat setelah meditasi/kontemplasi. Catatan ini misalnya mengenai: terang, rahmat yang diterima dll. Makin jujur dan sederhana dalam membuat catatan ini, semakin menolong Anda sendiri.
Yang penting dalam retret : menjadi sadar akan caranya Anda digerakkan dan dibimbing oleh Roh Kudus sendiri sekarang dan disini. Menjadi sadar pula ketidakbebasan yang terdapat dalam diri Anda. Pembimbing Retret - bahkan bila seorang imam, tidak perlu/tidak harus menjadi bapa pengakuan.
Ada bedanya antara sakramen rekonsiliasi dan bimbingan rohani. Tujuan retret bukan pertama-tama untuk mempersiapkan diri untuk menerima sakramen tobat. Sakramen rekonsiliasi ada tempatnya dalam retret ini. Silahkan minta pada pembimbing jika diperlukan. Meskipun begitu, usaha serius dari pihak pengikut untuk mengutarakan godaan-godaan dan perasaan-perasaan takut, konsolasi/desolasi, cahaya yang dianugerahkan Tuhan, gerak hati yang dialami dalam batinnya, justru itulah yang merupakan keuntungan utama dalam retret terbimbing ini. Pembimbing akan mendengarkan, kadang akan menerangkan, dan sedapat-dapatnya menyesuaikan proses perkembangan/dinamika retret Anda, selaras dengan cara pengikut dibimbing Tuhan, serta menjawab kepada Tuhan.
Tanpa keterbukaan itu antara pengikut retret dan pembimbing, retret tidak mungkin dapat disesuaikan dan diarahkan sedemikian rupa, sehingga pengikut retret akan bertumbuh maju. Percakapan dalam wawancara ini bersifat rahasia. Pembimbing akan dan harus menjaga kerahasiaan isi percakapan ini.
BAH AN WAWANCARA

Apa saja yang bisa misalnya sbg. Bahan wawancara
1.     Apa yang telah terjadi dan telah Anda alami dalam waktu doa (dan di luar jam doa), umpamanya: rasa gembira, takut, gelisah, damai, kacau, konsolasi, desolasi, kekosongan, kegersangan, terang, gelap, kehadiran Tuhan, atau 'absen' Tuhan, merasa diperkuat dalam iman, pengharapan, cinta kasih atau sebaliknya, merasa sedang 'dibebaskan' oleh Tuhan, atau merasa sangat tidak bebas karena suatu hal, daya tarik suatu panggilan yang rupanya berasal dari Tuhan,
2.     Cara Anda berdoa: bagaimana Anda telah melihat Anda sendiri dalam cahaya doa.
3.     Apa saja yang menghalangi kemajuan doa Anda: ke arah mana Anda didorong oleh Tuhan?. Apa saja yang dikatakan/dijelaskan Tuhan kepada Anda.
4.     Pertanyaan-pertanyaan, godaan-godaan, kesulitan-kesulitan yang timbul dan yang tetap mengacau waktu doa atau waktu di luar jam doa. Gangguan-gangguan dan pikiran-pikiran yang membuat Anda kacau. Malahan hal-hal yang kelihatan sepele, misalnya kesehatan Anda, lelah, bosan, mimpi-mimpi dll.
5.     Yang penting apa yang sungguh Anda rasakan, rindukan, pikirkan. Jangan memakai kedok sok suci. Jangan mengungkapkan perasaan atau keinginan yang tidak sesuai dengan kenyataan hati Anda. Jangan hanya mau menyenangkan Pembimbing, atau perasaan-perasaan yang seharusnya ada.
Semakin Pembimbing mengetahui apa yang telah terjadi dalam diri Anda, semakin dia dapat menolong Anda dengan misalnya mengusulkan bahan yang cocok, agar Anda semakin menjadi peka akan caranya Roh Kudus ingin membimbing Anda. Baru bila Pembimbing melihat siapakah Anda sebenarnya, siapakah Anda dalam mata Tuhan, makin Pembimbing dapat menolong Anda agar mengenal dan mencintai Pembimbing Sebenarnya yaitu ROH KUDUS sendiri.
Oleh karena Pembimbing sadar bahwa Roh Kuduslah Pembimbing Utama, maka Pembimbing tidak akan banyak bicara, tetapi akan mendengarkan dengan sebaik mungkin, ia tidak akan terlalu mengarahkan Anda, atau memaksakan gagasan-gagasannya sendiri kepada Anda.

HAL-HAL PRAKTIS

1.     Membangun Keheningan
a.      Tidak bertegur sapa, apalagi ngobrol dg sesama retretan dan karyawan, baik di gang, ruang makan atau tempat lain. Jika perlu bicara, bicara seperlunya. Jika ada sesama retretan mengajak ngobrol sebaiknya tidak dilayani. Diharap retretan sadar untuk apa mereka datang ke sini.
b.     Mematikan HP, kecuali jika ada yang urgen (anggota keluarga sedang kritis dll) – sangat dianjurkan jika anda akan merasa tergoda utk menggunakan HP, HP dititipkan pada pembimbing. Bisa pesan pada orang yg berkepentingan supaya SMS kepada pembimbing jika ada hal yang sungguh mendesak dan penting. Saat retret kita berhenti berdevosi pada ‘Santa Nokia’ dan memberikan seluruh waktu untukNya. Semakin kita murah hati, Tuhan juga akan lebih murah hati lagi.
2.     Tempat doa: selain kompleks novisiat, semua kapel dan tempat lain bisa dipakai untuk berdoa (lihat peta yang tersedia di kamar).
3.     Gaya hidup ekologis: gunakan listrik dan air dengan bijaksana, jika malam dan semua sudah di kamar mohon lampu gang dimatikan – di ruang makan tidak disediakan tissue tetapi diganti dengan lap mulut sesuai dengan nomor kamar – membuang sampah: tempat sampah MERAH untuk sampah daur ulang (botol, kaleng dll); tempat sampah BIRU untuk sampah lainnya.
4.     Jika perlu makanan khusus/diet, silahkan isi blanko di ruang makan dan serahkan ke dapur.
5.     Keuangan: sangat diharapkan dibereskan sebelum mulai retret – soal stipendium: jangan sampai membebani Anda,  kalau Anda ingin menyumbang untuk perawatan gedung, tentu akan kami terima dengan senang hati.

TERIMA KASIH SELAMAT MENJALANI RETRET

DOA KAMI PARA  PENDAMPING RETRET,
MENYERTAI ANDA SEMUA